Kamis, 06 Desember 2012

Laporan Sterilisasi








STERILISASI
(Laporan Praktikum Mikrobiologi Pertanian)






Oleh:

Septianing Diah Awalia
1014121047



















PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011






I.         PENDAHULUAN


1.1.   Latar Belakang

Mikrobiologi merupakan suatu ilmu untuk mempelajari jasad renik, jasad mikroskopik, kuman, atau mikroorganisme. Oleh karena itu para praktikan yang akan bekerja dengan mikroorganisme sangat membutuhkan kondisi yang sangat steril, agar media percobaan tidak terkontaminasi oleh mikroba-mikroba lain yang tidak kita inginkan.

Sterilisasi sangat diperlukan dalam percobaan tersebut. Saat kita bekerja dalam percobaan mikrobiologi, maka kita harus dalam kondisi atau keadaan yang bersih dan aseptic. Sterilisasi adalah proses mematikan semua organisme yang terdapat pada atau dalam suatu benda.

Pada proses sterilisasi, ada tiga cara yang dapat digunakan yaitu, penggunaan panas, bahan kimia, dan penyaringan atau filtrasi. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan. Metode sterilisasi yang umum digunakan secara rutin di laboratorium mikrobiologi adalah yang menggunakan panas. Namun tak jarang pula di laboratorium menggunakan metode sterilisasi penggunaan bahan kimia dan penyaringan.

Sterilisasi yang sering digunakan adalah sterilisasi dengan menggunakan Laminar Airflow. Laminar Airflow bekerja dengan cara menyaring udara yang masuk kedalam Laminar Airflow agar kondisi sekitar menjadi steril dan udara yang masuk pun menjadi steril dan tidak terkontaminasi.

Jika kita hendak memindahkan biakan ke dalam media  yang lebih baik dilakukan di dekat bunsen didalam Laminar Airflow. Bunsen berfungsi untuk mematikan semua mikroorganisme disekitar media PDA. Bunsen berisi gas methanol. Media yang akan kita gunakan pada praktikum ini adalah PDA (Potato Dextrose Agar) yang merupakan bahan hasil ekstraksi dari Algae merah (Rhodophyceae).

1.2.   Tujuan

Tujuan dilakukan praktikum sterilisasi ini adalah untuk:
1.        Untuk mensterilkan meja kerja dengan alkohol 70%.
2.        Untuk mengetahui cara penuangan media PDA (Potato Dextrose Agar) kedalam cawan petri.








II.      TINJAUAN PUSTAKA


Mikroorganisme dapat disingkirkan, dihambat, atau dibunuh dengan sarana fisik, proses fisik, atau bahan kimia. Tersedianya berbagai teknik dan sarana fisik yang bekerja menurut berbagai macam cara yang berbada-beda dan masing-masing mempunyai keterbatasan-keterbatasan sendiri didalam penerapan praktisnya. (Michael, 2008).

·           Sarana fisik dapat diartikan sebagai keadaan atau sifat fisik yang menyebabkan suatu perubahan.
Contoh: suhu, tekanan, radiasi, dan penyaringan.
·           Proses fisik adalah suatu prosedur yang mengakibatkan perubahan.
Contoh: sterilisasi, pembakaran, dan sanitasi.
·           Bahan kimia adalah suatu substansi (padat, cair, dan gas) yang dicirikan oleh komposisi molekular yang positif dan menyebabkan terjadinya reaksi kimia.
Contoh: senyawa-senyawa fenolik, alkohol, klor, iodium, dan etilen oksida.

Sterilisasi merupakan proses untuk mematikan semua mikroorganisme yang hidup. Adanya pertumbuhan mikroorganisme menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri masih berlangsung dan tidak sempurnanya proses sterilisasi. Jika sterilisasi berlangsung sempurna, maka spora bakteri yang merupakan bentuk paling resisten dari kehidupan mikroba akan diluluhkan. (Bibiana, 1992).

Pengendalian mikroorganisme yang mengganggu proses pembiakan dalam media sangatlah penting. Hal ini didasarkan karena mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, mencegah pembusukan dan perusakan bahan oleh mikroorganisme. (Michael, 2008).

Mikroorganisme mempunyai kerentanan berbeda terhadap bahan-bahan yang digunakan untuk mematikannya. Terdapatnya perbedaan antar jenis bergantung dari kadar air dan pH lingkungan sekitar, dan dari umur sel atau spora, dan seterusnya. Kecepatan pemusnahan atau pematian yang eksponensial tidak hanya bergantung dari jenis organisme saja tetapi juga dari berbagai kondisi lingkungan. Sebagai ganti kecepatan ini, sebagai kriteria terjadi peristiwa pematian pada kondisi tertentu dan populasi tertentu digunakan nilai D. Nilai ini diartikan sebagai waktu yang diperlukan untuk pematian 90% dari sel, atau disebut juga masa reduksi maksimal. (Karin, 1994).

Alkohol memiliki daya kerja untuk mengkoagulasi protein. Alkohol yang sering digunakan adalah methanol (CH3OH), ethanol (CH3CH2OH), dan isopropanol (CH3)2CHOH. Daya bekterisidal meningkat sejalan dengan berat molekul, sehingga isopropil alkohol menjadi pilihan utama. Cairan alkohol yang umum digunakan berkonsentrasi 70-80%. Konsentrasi yang lebih tinggi ataupun lebih rendah kurang efektif. (Karin, 1994).

Bunsen pun memiliki fungsi yang sangat besar terhadap proses sterilisasi. Cara kerja menggunakan bunsen antara lain: Nyalakan api, biarkan hingga berwarna biru, untuk mensterilkan jarum ose dan jarum ent panaskan hingga jarum berwarna merah secara menyeluruh, untuk drugalsky cukup difiksasi 2 sampai 3 kali saja, setelah selesai sterilisaasi, matikan Bunsen burner dengan cara hanya menutupkan tutup pada Bunsen burner.
Untuk dapat memperoleh biakan murni digunakan beberapa metode teknik biakan, antara lain;
·           Metode agar tuang –KOCH
Pada metode ini bakteri disebar diatas permukaan lempengan media agar.
·           Metode penggoresan lempengan agar
Metode ini dikembangkan oleh Loeffler dan Gaffky dari laboratorium KOCH.

Banyak sekali metode-metode yang digunakan dalam melakukan praktikum mikrobiologi.Salah satu teknik yang dikembangkan KOCH adalah metode agar tuang untuk mendapatkan koloni yang terpisah. Kesulitan dalam penggunaan teknik agar tuang KOCH  yaitu apabila jumlah kandungan bakteri sangat tinggi dalam bahan yang akan diperiksa atau diteliti. Dari laboratorium KOCH juga dirancang cawan untuk mendapatkan biakan murni. Cawan ini ditemukan oleh Richard J. Petri. Cawan ini sampai saat ini masih dipakai yaitu cawan petri. (Bibiana, 1992).








III.   METODELOGI PERCOBAAN


3.1.  Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum sterilisasi ini adalah Laminar Airflow, Cawan Petri, Bunsen, Erlenmyer, dan Alumunium Foil. Sedangkan bahan yang digunakan hanya media PDA (Potato Dextrose Agar).

3.2.  Cara Kerja

1.        Masuk ke praktikun per kelompok.
2.        Hidupkan blower dan laminar airflow 2 jam sebelum penggunaan.
3.        Lakukan sterilisasi meja kerja, tangan, dan alat-alat praktikum lainnya dengan alkohol 70%.
4.        Kemudian lap meja kerja dengan menggunakan tisue.
5.        Hidupkan bunsen didalam laminar airflow.
6.        Buka cawan petri yang sudah steril yang telah diletakkan didalam laminar airflowdari plastik anti panas.
7.        Buka media PDA yang di tutup oleh alumunium foil.
8.        Tuangkan media PDA kedalam cawan petri sambil digoyangkan dengan posisi setengah terbuka di dekat bunsen.
9.        Setelah media PDA dituangkan, letakkan cawan petri berisi media PDA dengan posisi setengah terbuka agar yidak terjadi pengembunan.
10.    Setelah media yang ada di cawan petri dingin, maka tutuplah cawan petri.
11.    Susunlah cawan petri dan simpan ditempat yang sudah steril.
12.    Setelah itu semprotkan kembali alkohol 70% pada meja kerja dan tangan, kemudian lap dengan tisue.
13.    Setelah selesai semua matikan bunsen,, blower, dan laminar airflow.
14.    Tutup laminar airflow.






IV.   HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada pembahasan ini, akan dibahas cara atau prosedur tentang cara kerja mensterilkan meja kerja dengan menggunakan alkohol 70% dan cara penuangan media PDA (Potato Dextrose Agar) kedalam cawan petri untuk membiakkan mikroorganisme. Meja kerja dan alat-alat lainnya yang akan kita gunakan terlebih dahulu harus disterilkan dengan menggunakan alkohol 70%. Hal ini bertujuan agar mikroorganisme yang ada di atas maupun di sekeliling mejakerja bisa dikendalikan atau mati.

Setelah alat dan bahan kita sterilkan barulah kita melakukan pemindahan media PDA. Pemindahan media dilakukan di dalam laminar airflow yang sudah dihidupkan dua jam sebelum proses percobaan berlangsung. Pemindahan media dilakukan dari tabung erlenmyer yang ditutup oleh alumunium foil ke dalam cawan petri yang telah disiapkan terlebih dahulu. Fungsi dari alumunium foil adalah menjaga agar media PDA tetap steril dan tidak terkontaminasi oleh bakteri-bakteri lain.

Tuangkan media PDA (Potato Dextrose Agar) kedalam cawan petri sambil digoyang-goyangkan agar media yang dituang bisa menjadi rata. Gunanya agar media PDA tersebut dapat menjadi tempat nikroorganisme secara merata. Karena proses penuangan media menjadi dasar sukses atu tidak nya suatu percobaan didalam praktikum mikrobiologi.

Media adalah zat yang akan digunakan untuk menyediakan bahan makanan untuk pertumbuhan mikroorganisme dalam bentuk media padat atau pun cair. Media yang sering digunakan pada percobaan mikrobiologi adalah PDA (Potato Dextrose Agar) yang merupakan polisakarida yang dikeringkan dari ekstrak Algae merah (Rhodophyceae) yang digunakan sebagai bahan pemadat untuk media pertumbuhan mikroorganisme. Media PDA dapat mengeras atau membeku pada suhu 450C. Media PDA ini bukanlah merupakan sumber zat hara melainkan hanya berbentuk polisakarida.

Untuk dapat memperoleh hasil biakan mikroorganisme yang murni praktikan dapat menggunakan teknik biakan metode agar tuang. –KOCH. Pada metode ini, bakteri akan tumbuh tersebar pada media PDA (Potato Dextrose Agar) yang dituangkan didalam cawan petri dengan cara terpisah.

Selama pemindahan media PDA berlangsung usahakan dilakukan didekat bunsen, hal ini dilakukan agar media biakan tetap steril. Karena bunsen berfungsi sebagai alat yang menciptakan kondisi yang steril didalam laminar airflow. Perubahan bunsen dapat menggunakan bahan bakar gas atau methanol. Pemindahan median yang tidak dilakukan didekat bunsen dikhawatirkan media akan tercemar oleh mikroba-mikroba lain.

Setelah proses pemindahan selesai letakkan cawan petri yang berisi media PDA didalam laminar airflow agar media dapat mengeras dan membeku. Setelah media membeku tutup cawan petri dan simpan media ditempat yang cukup steril dengan kondisi suhu terjaga.

Semprotkan alkohol 70% ke meja kerja dan alat lainnya setelah pemindahan media selesai dilakukan. Hal ini menjaga agar laminar airflow selalu dalam keadaan bersih dan steril. Hal terakhir yang harus dilakukan adalah mematikan bunsen, blower, dan laminar airflow.








V.      KESIMPULAN


Setelah melakukan praktikum ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.        Alat dan bahan yang steril sangat menentukan berhasil atau tidaknya proses pemindahan mikroorganisme.
2.        Setiap alat sterilisasi memiliki cara penggunaan dan prinsip kerja yang berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama.
3.        Media PDA (Potato Dextrose Agar) merupakan media yang paling baik digunakan.








DAFTAR PUSTAKA


Pelczar, Michael J., dan Chan, E.C.S. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta:Universitas Indonesia
Lay, Bibiana W., dan Hastowo, Sugyo. 1992. Mikrobiologi. Jakarta: Rajawali
Schmidt, Karin. 1994. Mikrobiologi Umum. Jogjakarta: Universitas Gajah Mada
Suriawiria, Unus. 1985. Pengantar Mikrobiologi Umum. Bandung: Angkasa








LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar